Patung Kesempatan
"Apakah itu?" tanya seorang pengunjung dalam sanggar seorang ahlipahat tatkala melihat patung yang mukanya ditutupi rambut dan kakinya
bersayap.
"Kesempatan," jawab pemahat itu.
"Mengapa mukanya tertutup?"
"Karena banyak orang yang tidak mengenalinya apabila ia datang
mengunjungi mereka."
"Mengapa kakinya bersayap?"
"Karena larinya cepat dan tidak bisa dikejar, bila ia sudah kabur."
Thursday, September 13, 2007
Ramuan Ajaib
Ramuan Ajaib
Seorang wanita yang baru mengalami kematian anaknya, menemui seorang
pendeta dan bertanya, "Guru, apakah Anda memiliki ramuan ajaib untuk
mengembalikan anakku?"
Sang pendeta tidak berusaha berargumentasi dengan wanita tersebut
atau mengusirnya karena permintaan yang tidak masuk akal itu. Akan
tetapi dia berkata kepada wanita tersebut, "Carilah sebuah jamur dari
rumah yang tidak mengenal kesedihan. Setelah kamu menemukan benda
itu, kita bisa sama-sama membuat ramuan ajaib untuk menghidupkan
putramu." Selesai mendengar tentang hal itu, wanita itu segera
berangkat mencari jamur yang dimaksud.
Dia tiba di depan sebuah rumah mewah, mengetuk pintu, dan
berkata, "Saya mencari sebuah rumah yang tidak pernah mengenal
kesedihan. Apakah ini tempatnya? Hal ini sangat penting bagi saya."
Pemilik rumah itu menjawab, "Kamu jelas datang ke rumah yang salah,"
dan mulai bercerita tentang tragedi yang pernah dialami keluarganya.
Mendengar cerita sedih dari si pemilik rumah, wanita tersebut
berpikir, "Siapa yang bisa membantu orang yang nasibnya lebih malang
dari saya ini?" Maka dia memutuskan untuk tinggal di sana dan
menghibur pemilik rumah itu. Setelah itu dia berangkat lagi mencari
ke rumah berikutnya. Tetapi kemana pun dia pergi, dia selalu
menemukan kesedihan. Wanita itu akhirnya terlibat dalam upaya
menghibur semua orang yang dikunjunginya dan melupakan misinya yang
semula, tanpa menyadari bahwa dia telah berhasil mengusir rasa sedih
dari dirinya.
Seorang wanita yang baru mengalami kematian anaknya, menemui seorang
pendeta dan bertanya, "Guru, apakah Anda memiliki ramuan ajaib untuk
mengembalikan anakku?"
Sang pendeta tidak berusaha berargumentasi dengan wanita tersebut
atau mengusirnya karena permintaan yang tidak masuk akal itu. Akan
tetapi dia berkata kepada wanita tersebut, "Carilah sebuah jamur dari
rumah yang tidak mengenal kesedihan. Setelah kamu menemukan benda
itu, kita bisa sama-sama membuat ramuan ajaib untuk menghidupkan
putramu." Selesai mendengar tentang hal itu, wanita itu segera
berangkat mencari jamur yang dimaksud.
Dia tiba di depan sebuah rumah mewah, mengetuk pintu, dan
berkata, "Saya mencari sebuah rumah yang tidak pernah mengenal
kesedihan. Apakah ini tempatnya? Hal ini sangat penting bagi saya."
Pemilik rumah itu menjawab, "Kamu jelas datang ke rumah yang salah,"
dan mulai bercerita tentang tragedi yang pernah dialami keluarganya.
Mendengar cerita sedih dari si pemilik rumah, wanita tersebut
berpikir, "Siapa yang bisa membantu orang yang nasibnya lebih malang
dari saya ini?" Maka dia memutuskan untuk tinggal di sana dan
menghibur pemilik rumah itu. Setelah itu dia berangkat lagi mencari
ke rumah berikutnya. Tetapi kemana pun dia pergi, dia selalu
menemukan kesedihan. Wanita itu akhirnya terlibat dalam upaya
menghibur semua orang yang dikunjunginya dan melupakan misinya yang
semula, tanpa menyadari bahwa dia telah berhasil mengusir rasa sedih
dari dirinya.
Saturday, September 8, 2007
Wortel Telur Kopi
Wortel, Telur atau Kopi?
Seorang anak mengeluh pada ayahnya tentang hidupnya yang sulit. Ia
tidak tahu lagi harus berbuat apa dan ingin menyerah saja. Ia lelah
berjuang. Setiap saat satu persoalan terpecahkan, persoalan yang lain
muncul. Ayahnya, seorang juru masak, tersenyum dan membawa anak
perempuannya ke dapur. Ia lalu mengambil tiga buah panci, mengisinya
masing-masing dengan air dan meletakkannya pada kompor yang menyala.
Beberapa saat kemudian air dalam panci-panci itu mendidih. Pada panci
pertama, ia memasukkan wortel. Lalu, pada panci kedua ia memasukkan
telur. Dan, pada panci ketiga ia memasukkan beberapa biji kopi tumbuk.
Ia membiarkan masing-masing mendidih.
Selama itu ia terdiam seribu bahasa. Sang anak menggereget gigi, tak
sabar menunggu dan heran dengan apa yang dilakukan oleh ayahnya. Dua
puluh menit kemudian, sang ayah mematikan api. Lalu menyiduk wortel
dari dalam panci dan meletakkanya pada sebuah piring. Kemudian ia
mengambil telur dan meletakkanya pada piring yang sama. Terakhir ia
menyaring kopi yang diletakkan pada piring itu juga.
Ia lalu menoleh pada anaknya dan bertanya, "Apa yang kau lihat, nak?"
"Wortel, telur, dan kopi, " jawab sang anak.Ia membimbing anaknya
mendekat dan memintanya untuk memegang wortel. Anak itu melakukan apa
yang diminta dan mengatakan bahwa wortel itu terasa lunak.
Kemudian sang ayah meminta anaknya memecah telur. Setelah telur itu
dipecah dan dikupas, sang anak mengatakan bahwa telur rebus itu kini
terasa keras.
Kemudian sang ayah meminta anak itu mencicipi kopi. Sang anak
tersenyum saat mencicipi aroma kopi yang sedap itu. "Apa maksud semua
ini, ayah?" tanya sang anak.
Sang ayah menjelaskan bahwa setiap benda tadi telah mengalami hal yang
sama, yaitu direbus dalam air mendidih, tetapi selepas perebusan itu
mereka berubah menjadi sesuatu yang berbeda-beda. Wortel yang semula
kuat dan keras, setelah direbus dalam air mendidih, berubah menjadi
lunak dan lemah.
Sedangkan telur, sebaliknya, yang semula mudah pecah, kini setelah
direbus menjadi keras dan kokoh.
Sedangkan biji kopi tumbuh berubah menjadi sangat unik. Biji kopi,
setelah direbus, malah mengubah air yang merebusnya itu.
Maka, yang manakah dirimu?" tanya sang ayah pada anaknya. "Di saat
kesulitan menghadang langkahmu, perubahan apa yang terjadi pada
dirimu? Apakah kau menjadi sebatang wortel, sebutir telur atau biji
kopi?"
Seorang anak mengeluh pada ayahnya tentang hidupnya yang sulit. Ia
tidak tahu lagi harus berbuat apa dan ingin menyerah saja. Ia lelah
berjuang. Setiap saat satu persoalan terpecahkan, persoalan yang lain
muncul. Ayahnya, seorang juru masak, tersenyum dan membawa anak
perempuannya ke dapur. Ia lalu mengambil tiga buah panci, mengisinya
masing-masing dengan air dan meletakkannya pada kompor yang menyala.
Beberapa saat kemudian air dalam panci-panci itu mendidih. Pada panci
pertama, ia memasukkan wortel. Lalu, pada panci kedua ia memasukkan
telur. Dan, pada panci ketiga ia memasukkan beberapa biji kopi tumbuk.
Ia membiarkan masing-masing mendidih.
Selama itu ia terdiam seribu bahasa. Sang anak menggereget gigi, tak
sabar menunggu dan heran dengan apa yang dilakukan oleh ayahnya. Dua
puluh menit kemudian, sang ayah mematikan api. Lalu menyiduk wortel
dari dalam panci dan meletakkanya pada sebuah piring. Kemudian ia
mengambil telur dan meletakkanya pada piring yang sama. Terakhir ia
menyaring kopi yang diletakkan pada piring itu juga.
Ia lalu menoleh pada anaknya dan bertanya, "Apa yang kau lihat, nak?"
"Wortel, telur, dan kopi, " jawab sang anak.Ia membimbing anaknya
mendekat dan memintanya untuk memegang wortel. Anak itu melakukan apa
yang diminta dan mengatakan bahwa wortel itu terasa lunak.
Kemudian sang ayah meminta anaknya memecah telur. Setelah telur itu
dipecah dan dikupas, sang anak mengatakan bahwa telur rebus itu kini
terasa keras.
Kemudian sang ayah meminta anak itu mencicipi kopi. Sang anak
tersenyum saat mencicipi aroma kopi yang sedap itu. "Apa maksud semua
ini, ayah?" tanya sang anak.
Sang ayah menjelaskan bahwa setiap benda tadi telah mengalami hal yang
sama, yaitu direbus dalam air mendidih, tetapi selepas perebusan itu
mereka berubah menjadi sesuatu yang berbeda-beda. Wortel yang semula
kuat dan keras, setelah direbus dalam air mendidih, berubah menjadi
lunak dan lemah.
Sedangkan telur, sebaliknya, yang semula mudah pecah, kini setelah
direbus menjadi keras dan kokoh.
Sedangkan biji kopi tumbuh berubah menjadi sangat unik. Biji kopi,
setelah direbus, malah mengubah air yang merebusnya itu.
Maka, yang manakah dirimu?" tanya sang ayah pada anaknya. "Di saat
kesulitan menghadang langkahmu, perubahan apa yang terjadi pada
dirimu? Apakah kau menjadi sebatang wortel, sebutir telur atau biji
kopi?"
Hukum Berfikir Positif
Hukum Berpikir Positif
Pygmalion adalah seorang pemuda yang berbakat
senimemahat. Ia sungguh piawai dalam memahat patung.
Karya ukiran tangannya sungguh bagus. Tetapi bukan
kecakapannya itu menjadikan ia dikenal dan disenangi
teman dan tetangganya. Pygmalion dikenal sebagai orang
yang suka berpikiran positif. Ia memandang segala
sesuatu dari sudut yang baik.
* Apabila lapangan di tengah kota becek, orang-orang
mengomel.
Tetapi Pygmalion berkata,
"Untunglah,lapangan yang lain tidak sebecek ini."
* Ketika ada seorang pembeli patung ngotot
menawar-nawar harga, kawan- kawan Pygmalion berbisik,
"Kikir betul orang itu."
Tetapi Pygmalion berkata, "Mungkin orang itu perlu
mengeluarkan uang untuk urusan lain yang lebih perlu".
* Ketika anak-anak mencuri apel dikebunnya, Pygmalion
tidak mengumpat. Ia malah merasa iba,
"Kasihan,anak-anak itu kurang mendapat pendidikan dan
makanan yang cukup di rumahnya."
itulah pola pandang Pygmalion. Ia tidak melihat suatu
keadaan dari segi buruk, melainkan justru dari segi
baik. Ia tidak pernah berpikir buruk tentang orang
lain; sebaliknya, ia mencoba membayangkan hal-hal baik
dibalik perbuatan buruk orang lain.
Pada suatu hari Pygmalion mengukir sebuah patung
wanita dari kayu yang sangat halus. Patung itu
berukuran manusia sungguhan. Ketika sudah rampung,
patung itu tampak seperti manusia betul. Wajah patung
itu tersenyum manis menawan, tubuhnya elok menarik.
Kawan-kawan Pygmalion berkata,
"Ah,sebagus-bagusnya patung, itu cuma patung,bukan
isterimu."
Tetapi Pygmalion memperlakukan patung itu sebagai
manusia betul. Berkali-kali patung itu ditatapnya dan
dibelainya.
Para dewa yang ada di Gunung Olympus memperhatikan dan
menghargai sikap Pygmalion, lalu mereka memutuskan
untuk memberi anugerah kepada Pygmalion, yaitu
mengubah patung itu menjadi manusia betul. Begitulah,
Pygmalion hidup berbahagia dengan isterinya itu yang
konon adalah wanita tercantik di seluruh negeri
Yunani.
Nama Pygmalion dikenang hingga kini untuk mengambarkan
dampak pola berpikir yang positif. Kalau kita berpikir
positif tentang suatu keadaan atau seseorang,
seringkali hasilnya betul-betul menjadi positif.
Misalnya,
* Jika kita bersikap ramah terhadap seseorang, maka
orang itupun akan menjadi ramah terhadap kita.
* Jika kita memperlakukan anak kita sebagai anak yang
cerdas, akhirnya dia betul-betul menjadi cerdas.
* Jika kita yakin bahwa upaya kita akan berhasil,
besar sekali kemungkinan upaya dapat merupakan separuh
keberhasilan.
Dampak pola berpikir positif itu disebut dampak
Pygmalion.
Pikiran kita memang seringkali mempunyai dampak
fulfilling prophecy atau ramalan tergenapi, baik
positif maupun negatif.
* Kalau kita menganggap tetangga kita judes sehingga
kita tidak mau bergaul dengan dia, maka akhirnya dia
betul-betul menjadi judes.
* Kalau kita mencurigai dan menganggap anak kita tidak
jujur, akhirnya ia betul-betul menjadi tidak jujur.
* Kalau kita sudah putus asa dan merasa tidak sanggup
pada awal suatu usaha, besar sekali kemungkinannya
kita betul-betul akan gagal.
Pola pikir Pygmalion adalah berpikir, menduga dan
berharap hanya yang baik tentang suatu keadaan atau
seseorang.
Bayangkan,bagaimana besar dampaknya bila kita berpola
pikir positif seperti itu. Kita tidak akan
berprasangka buruk tentang orang lain.
Kita tidak menggunjingkan desas-desus yang jelek
tentang orang lain. Kita tidak menduga-duga yang jahat
tentang orang lain.
Kalau kita berpikir buruk tentang orang lain, selalu
ada saja bahan untuk menduga hal-hal yang buruk. Jika
ada seorang kawan memberi hadiah kepada kita, jelas
itu adalah perbuatan baik.
Tetapi jika kita berpikir buruk, kita akan menjadi
curiga,
"Barangkali ia sedang mencoba membujuk," atau kita
mengomel,"Ah, hadiahnya cuma barang murah.
Yang rugi dari pola pikir seperti itu adalah diri kita
sendiri.Kita menjadi mudah curiga. Kita menjadi tidak
bahagia.
Sebaliknya, kalau kita berpikir positif, kita akan
menikmati hadiah itu dengan rasa gembira dan syukur,
"Ia begitu murah hati. Walaupun ia sibuk, ia ingat
untuk memberi kepada kita."
Warna hidup memang tergantung dari warna kaca mata
yang kita pakai.
* Kalau kita memakai kaca mata kelabu, segala sesuatu
akan tampak kelabu. Hidup menjadi kelabu dan suram.
Tetapi kalau kita memakai kaca mata yang terang,
segala sesuatu akan tampak cerah. Kaca mata yang
berprasangka atau benci akan menjadikan hidup kita
penuh rasa curiga dan dendam. Tetapi kaca mata yang
damai akan menjadikan hidup kita damai.
Hidup akan menjadi baik kalau kita memandangnya dari
segi yang baik. Berpikir baik tentang diri sendiri.
Berpikir baik tentang orang lain.
Berpikir baik tentang keadaan.
Berpikir baik tentang Tuhan.
Dampak berpikir baik seperti itu akan kita rasakan.
Keluarga menjadi hangat.
Kawan menjadi bisa dipercaya.
Tetangga menjadi akrab.
Pekerjaan menjadi menyenangkan.
Dunia menjadi ramah.
Hidup menjadi indah. Seperti Pygmalion, begitulah
Pygmalion adalah seorang pemuda yang berbakat
senimemahat. Ia sungguh piawai dalam memahat patung.
Karya ukiran tangannya sungguh bagus. Tetapi bukan
kecakapannya itu menjadikan ia dikenal dan disenangi
teman dan tetangganya. Pygmalion dikenal sebagai orang
yang suka berpikiran positif. Ia memandang segala
sesuatu dari sudut yang baik.
* Apabila lapangan di tengah kota becek, orang-orang
mengomel.
Tetapi Pygmalion berkata,
"Untunglah,lapangan yang lain tidak sebecek ini."
* Ketika ada seorang pembeli patung ngotot
menawar-nawar harga, kawan- kawan Pygmalion berbisik,
"Kikir betul orang itu."
Tetapi Pygmalion berkata, "Mungkin orang itu perlu
mengeluarkan uang untuk urusan lain yang lebih perlu".
* Ketika anak-anak mencuri apel dikebunnya, Pygmalion
tidak mengumpat. Ia malah merasa iba,
"Kasihan,anak-anak itu kurang mendapat pendidikan dan
makanan yang cukup di rumahnya."
itulah pola pandang Pygmalion. Ia tidak melihat suatu
keadaan dari segi buruk, melainkan justru dari segi
baik. Ia tidak pernah berpikir buruk tentang orang
lain; sebaliknya, ia mencoba membayangkan hal-hal baik
dibalik perbuatan buruk orang lain.
Pada suatu hari Pygmalion mengukir sebuah patung
wanita dari kayu yang sangat halus. Patung itu
berukuran manusia sungguhan. Ketika sudah rampung,
patung itu tampak seperti manusia betul. Wajah patung
itu tersenyum manis menawan, tubuhnya elok menarik.
Kawan-kawan Pygmalion berkata,
"Ah,sebagus-bagusnya patung, itu cuma patung,bukan
isterimu."
Tetapi Pygmalion memperlakukan patung itu sebagai
manusia betul. Berkali-kali patung itu ditatapnya dan
dibelainya.
Para dewa yang ada di Gunung Olympus memperhatikan dan
menghargai sikap Pygmalion, lalu mereka memutuskan
untuk memberi anugerah kepada Pygmalion, yaitu
mengubah patung itu menjadi manusia betul. Begitulah,
Pygmalion hidup berbahagia dengan isterinya itu yang
konon adalah wanita tercantik di seluruh negeri
Yunani.
Nama Pygmalion dikenang hingga kini untuk mengambarkan
dampak pola berpikir yang positif. Kalau kita berpikir
positif tentang suatu keadaan atau seseorang,
seringkali hasilnya betul-betul menjadi positif.
Misalnya,
* Jika kita bersikap ramah terhadap seseorang, maka
orang itupun akan menjadi ramah terhadap kita.
* Jika kita memperlakukan anak kita sebagai anak yang
cerdas, akhirnya dia betul-betul menjadi cerdas.
* Jika kita yakin bahwa upaya kita akan berhasil,
besar sekali kemungkinan upaya dapat merupakan separuh
keberhasilan.
Dampak pola berpikir positif itu disebut dampak
Pygmalion.
Pikiran kita memang seringkali mempunyai dampak
fulfilling prophecy atau ramalan tergenapi, baik
positif maupun negatif.
* Kalau kita menganggap tetangga kita judes sehingga
kita tidak mau bergaul dengan dia, maka akhirnya dia
betul-betul menjadi judes.
* Kalau kita mencurigai dan menganggap anak kita tidak
jujur, akhirnya ia betul-betul menjadi tidak jujur.
* Kalau kita sudah putus asa dan merasa tidak sanggup
pada awal suatu usaha, besar sekali kemungkinannya
kita betul-betul akan gagal.
Pola pikir Pygmalion adalah berpikir, menduga dan
berharap hanya yang baik tentang suatu keadaan atau
seseorang.
Bayangkan,bagaimana besar dampaknya bila kita berpola
pikir positif seperti itu. Kita tidak akan
berprasangka buruk tentang orang lain.
Kita tidak menggunjingkan desas-desus yang jelek
tentang orang lain. Kita tidak menduga-duga yang jahat
tentang orang lain.
Kalau kita berpikir buruk tentang orang lain, selalu
ada saja bahan untuk menduga hal-hal yang buruk. Jika
ada seorang kawan memberi hadiah kepada kita, jelas
itu adalah perbuatan baik.
Tetapi jika kita berpikir buruk, kita akan menjadi
curiga,
"Barangkali ia sedang mencoba membujuk," atau kita
mengomel,"Ah, hadiahnya cuma barang murah.
Yang rugi dari pola pikir seperti itu adalah diri kita
sendiri.Kita menjadi mudah curiga. Kita menjadi tidak
bahagia.
Sebaliknya, kalau kita berpikir positif, kita akan
menikmati hadiah itu dengan rasa gembira dan syukur,
"Ia begitu murah hati. Walaupun ia sibuk, ia ingat
untuk memberi kepada kita."
Warna hidup memang tergantung dari warna kaca mata
yang kita pakai.
* Kalau kita memakai kaca mata kelabu, segala sesuatu
akan tampak kelabu. Hidup menjadi kelabu dan suram.
Tetapi kalau kita memakai kaca mata yang terang,
segala sesuatu akan tampak cerah. Kaca mata yang
berprasangka atau benci akan menjadikan hidup kita
penuh rasa curiga dan dendam. Tetapi kaca mata yang
damai akan menjadikan hidup kita damai.
Hidup akan menjadi baik kalau kita memandangnya dari
segi yang baik. Berpikir baik tentang diri sendiri.
Berpikir baik tentang orang lain.
Berpikir baik tentang keadaan.
Berpikir baik tentang Tuhan.
Dampak berpikir baik seperti itu akan kita rasakan.
Keluarga menjadi hangat.
Kawan menjadi bisa dipercaya.
Tetangga menjadi akrab.
Pekerjaan menjadi menyenangkan.
Dunia menjadi ramah.
Hidup menjadi indah. Seperti Pygmalion, begitulah
Jimat Manusia
AWALNYA, saya mengenal nama Mary Kay Ash di beberapa terbitan jurnal
Personal Excellence. Tulisannya sederhana, mudah dicerna dan
menyentuh.
Namun, setelah tahu dari majalah Fortune, bahwa perusahaan yang ia
dirikan dan besarkan -- Mary Kay Cosmetics -- adalah salah satu di
antara 500 perusahaan besar dunia, perhatian saya ke wanita tua ini
mulai lebih serius. Setiap artikelnya saya baca. Bukunya saya
cermati. Dan, kendatipun sering ia tampil terlalu wanita sentris,
tetap tidak mengurangi minat saya terhadap ajaran-ajarannya.
Prinsip dia membesarkan perusahaan amatlah sederhana. Mulailah dengan
perhatian, tenggang rasa, dan keperdulian pada orang lain. Laba
adalah hasil ikutan dari keseriusan kita melaksanakan prinsip-prinsip
itu.
Fondasi paling kokoh dari manajemen Mary Kay Cosmetics, adalah sebuah
hukum utama yang berbunyi : 'perlakukan orang lain, sebagaimana Anda
ingin diperlakukan oleh mereka'.
Bagi Anda yang rajin belajar, prinsip terakhir bukanlah barang
baru.Namun, yang unik dari Mary Kay, adalah komitmennya dalam
melaksanakan prinsip tadi dengan penuh keseriusan.
Sebagai penjabaran dari prinsip manajemen dan hukum utama terakhir,
Mary Kay Ash pernah menulis bahwa setiap orang membawa ke mana-mana
tulisan psikologis di dahinya. Tulisan tersebut berbunyi : make me
feel important (disingkat MMFI).
Sepintas tampak, prinsip-prinsip manajemen yang menjadi tiang
penyangga Mary Kay Cosmetics, mirip dengan pendekatan Dale Carnegie
dan Stephen Covey. Benang merahnya, terletak pada modal yang bernama
sentuhan kemanusiaan.
Terus terang, saya bersentuhan dengan pendekatan-pendekatan
humanistik seperti ini dari umur yang amat muda. Seorang kakak saya
memberi buku Dale Carnegie, yang berjudul How to win friends and
convince the others, ketika saya masih di kelas satu SMU. Butuh waktu
lama memang untuk bisa mengaplikasikannya. Tetapi, langkah karir saya
amatlah ditopang oleh prinsip-prinsip terakhir.
Di satu kesempatan pelatihan pada Gulf Resources Ltd., seorang
pemimpin di perusahaan minyak Kanada ini bertanya ke saya : 'apa yang
Anda pakai untuk membuat orang yang di hari pertama galak tidak
ketulungan menjadi hormat di hari ke lima?'. Di Bank Dagang Negara,
seorang pimpinan cabang yang merasa kasihan ke saya - karena menurut
dia saya dikerjain habis-habisan oleh seorang peserta - juga bertanya
hal yang sama ke saya, di akhir sesi. Penghujat di kelas ini,
disamping merangkul saya di hari perpisahan, juga mau bersusah-susah
membeli hadiah buat saya. Saya mengalami pengalaman yang sama
berulang-ulang.
Seorang kawan dekat pernah bergurau, jangan-jangan saya
membawa 'jimat' dari Bali. Secara jujur harus saya akui, saya memang
memiliki 'jimat'. Dan jimat ini memang tidak hanya monopoli orang
Bali. Ia dimiliki oleh siapa saja yang peka akan bahasa-bahasa
kemanusiaan.
Bila ada yang menghujat, saya belajar untuk tidak menghujat balik.
Justru dalam keadaan demikian, saya ingat lagi prinsip Mary Kay Ash
tentang MMFI.
Pertanyaan awal saya setiap menghadapi hujatan, aspek mana dari orang
ini yang perlu diperlakukan penting? Kepintaran, pengalaman,
gengsinya di depan orang lain, atau hal lain?
Bila kepintarannya yang penting, saya mencoba mencari interaksi
antara ide saya dengan ide dia. Jika pengalamannya yang penting, saya
akan menggunakan pengalaman tadi sebagai basis teori saya. Mana kala
gengsi yang penting, saya akan beri dia kesempatan presentasi ke
depan.
Berhadapan dengan orang seperti ini, saya akan coba mencari satu hal
yang spesial untuk kemudian saya angkat sebagai topik pembicaraan. Ia
bisa berupa dasinya yang bagus, sepatunya yang unik, rambutnya yang
rapi atau apa saja yang saya yakin ia banggakan.
Lebih-lebih, bila saya bisa memberinya tambahan informasi dan
pengetahuan, yang membuat dia lebih bangga lagi dengan apa yang
tadinya sudah ia banggakan.
Seorang manajer wanita yang cerdas dan cantik pernah demikian ketus
dengan ide-ide saya. Ketika idenya memang brilian saya akui di depan
orang - kendati ada resiko saya sebagai konsultan dan pelatih tampak
lebih bego. Tatkala data-data dia lebih akurat, saya tidak ragu-ragu
untuk mengakuinya. Begitu break, saya ingat kalau parfum yang ia
pakai berharga amat mahal. Saya mencoba menebak merknya, dan ternyata
tepat. Wanita tersebut tampak demikian surprise, karena saya sudah
membongkar sebuah rahasia yang sebenarnya ia banggakan ke orang lain.
Di rapat berikutnya, entah darimana datangnya rasa hormat, ia menjadi
pendukung saya yang amat membantu.
Di sebuah acara yang cukup besar di Hongkong, seorang rekan berbisik
agar saya hati-hati dengan orang yang jadi moderator saya. Katanya,
orang ini sok pintar, menggurui dan tak segan menghina di depan umum.
Ketika berkenalan, saya amati raut mukanya memang lebih tua
dibandingkan saya. Saya tanya pengalamannya - dan ini biasanya yang
menjadi kebanggaan orang tua - maka berceritalah ia tidak habis-habis
tentang masa lalunya. Terakhir, ketika ia menjadi moderator saya, eh
dia malah banyak menyanjung dan memuji presentasi saya di depan umum.
Rekan saya memang benar. Saya memang memiliki jimat menundukkan
manusia lain. Dan, mantra jimat itu - dalam bahasa Mary Kay Ash -
berbunyi : make him/her feel important!
Personal Excellence. Tulisannya sederhana, mudah dicerna dan
menyentuh.
Namun, setelah tahu dari majalah Fortune, bahwa perusahaan yang ia
dirikan dan besarkan -- Mary Kay Cosmetics -- adalah salah satu di
antara 500 perusahaan besar dunia, perhatian saya ke wanita tua ini
mulai lebih serius. Setiap artikelnya saya baca. Bukunya saya
cermati. Dan, kendatipun sering ia tampil terlalu wanita sentris,
tetap tidak mengurangi minat saya terhadap ajaran-ajarannya.
Prinsip dia membesarkan perusahaan amatlah sederhana. Mulailah dengan
perhatian, tenggang rasa, dan keperdulian pada orang lain. Laba
adalah hasil ikutan dari keseriusan kita melaksanakan prinsip-prinsip
itu.
Fondasi paling kokoh dari manajemen Mary Kay Cosmetics, adalah sebuah
hukum utama yang berbunyi : 'perlakukan orang lain, sebagaimana Anda
ingin diperlakukan oleh mereka'.
Bagi Anda yang rajin belajar, prinsip terakhir bukanlah barang
baru.Namun, yang unik dari Mary Kay, adalah komitmennya dalam
melaksanakan prinsip tadi dengan penuh keseriusan.
Sebagai penjabaran dari prinsip manajemen dan hukum utama terakhir,
Mary Kay Ash pernah menulis bahwa setiap orang membawa ke mana-mana
tulisan psikologis di dahinya. Tulisan tersebut berbunyi : make me
feel important (disingkat MMFI).
Sepintas tampak, prinsip-prinsip manajemen yang menjadi tiang
penyangga Mary Kay Cosmetics, mirip dengan pendekatan Dale Carnegie
dan Stephen Covey. Benang merahnya, terletak pada modal yang bernama
sentuhan kemanusiaan.
Terus terang, saya bersentuhan dengan pendekatan-pendekatan
humanistik seperti ini dari umur yang amat muda. Seorang kakak saya
memberi buku Dale Carnegie, yang berjudul How to win friends and
convince the others, ketika saya masih di kelas satu SMU. Butuh waktu
lama memang untuk bisa mengaplikasikannya. Tetapi, langkah karir saya
amatlah ditopang oleh prinsip-prinsip terakhir.
Di satu kesempatan pelatihan pada Gulf Resources Ltd., seorang
pemimpin di perusahaan minyak Kanada ini bertanya ke saya : 'apa yang
Anda pakai untuk membuat orang yang di hari pertama galak tidak
ketulungan menjadi hormat di hari ke lima?'. Di Bank Dagang Negara,
seorang pimpinan cabang yang merasa kasihan ke saya - karena menurut
dia saya dikerjain habis-habisan oleh seorang peserta - juga bertanya
hal yang sama ke saya, di akhir sesi. Penghujat di kelas ini,
disamping merangkul saya di hari perpisahan, juga mau bersusah-susah
membeli hadiah buat saya. Saya mengalami pengalaman yang sama
berulang-ulang.
Seorang kawan dekat pernah bergurau, jangan-jangan saya
membawa 'jimat' dari Bali. Secara jujur harus saya akui, saya memang
memiliki 'jimat'. Dan jimat ini memang tidak hanya monopoli orang
Bali. Ia dimiliki oleh siapa saja yang peka akan bahasa-bahasa
kemanusiaan.
Bila ada yang menghujat, saya belajar untuk tidak menghujat balik.
Justru dalam keadaan demikian, saya ingat lagi prinsip Mary Kay Ash
tentang MMFI.
Pertanyaan awal saya setiap menghadapi hujatan, aspek mana dari orang
ini yang perlu diperlakukan penting? Kepintaran, pengalaman,
gengsinya di depan orang lain, atau hal lain?
Bila kepintarannya yang penting, saya mencoba mencari interaksi
antara ide saya dengan ide dia. Jika pengalamannya yang penting, saya
akan menggunakan pengalaman tadi sebagai basis teori saya. Mana kala
gengsi yang penting, saya akan beri dia kesempatan presentasi ke
depan.
Berhadapan dengan orang seperti ini, saya akan coba mencari satu hal
yang spesial untuk kemudian saya angkat sebagai topik pembicaraan. Ia
bisa berupa dasinya yang bagus, sepatunya yang unik, rambutnya yang
rapi atau apa saja yang saya yakin ia banggakan.
Lebih-lebih, bila saya bisa memberinya tambahan informasi dan
pengetahuan, yang membuat dia lebih bangga lagi dengan apa yang
tadinya sudah ia banggakan.
Seorang manajer wanita yang cerdas dan cantik pernah demikian ketus
dengan ide-ide saya. Ketika idenya memang brilian saya akui di depan
orang - kendati ada resiko saya sebagai konsultan dan pelatih tampak
lebih bego. Tatkala data-data dia lebih akurat, saya tidak ragu-ragu
untuk mengakuinya. Begitu break, saya ingat kalau parfum yang ia
pakai berharga amat mahal. Saya mencoba menebak merknya, dan ternyata
tepat. Wanita tersebut tampak demikian surprise, karena saya sudah
membongkar sebuah rahasia yang sebenarnya ia banggakan ke orang lain.
Di rapat berikutnya, entah darimana datangnya rasa hormat, ia menjadi
pendukung saya yang amat membantu.
Di sebuah acara yang cukup besar di Hongkong, seorang rekan berbisik
agar saya hati-hati dengan orang yang jadi moderator saya. Katanya,
orang ini sok pintar, menggurui dan tak segan menghina di depan umum.
Ketika berkenalan, saya amati raut mukanya memang lebih tua
dibandingkan saya. Saya tanya pengalamannya - dan ini biasanya yang
menjadi kebanggaan orang tua - maka berceritalah ia tidak habis-habis
tentang masa lalunya. Terakhir, ketika ia menjadi moderator saya, eh
dia malah banyak menyanjung dan memuji presentasi saya di depan umum.
Rekan saya memang benar. Saya memang memiliki jimat menundukkan
manusia lain. Dan, mantra jimat itu - dalam bahasa Mary Kay Ash -
berbunyi : make him/her feel important!
Pandai Besi
Elihu Burrit berusia enam belas tahun ketika ayahnya meninggal dunia.
Ia kemudian belajar pada seorang tukang besi. Ia harus bekerja
sepuluh sampai dua belas jam sehari. Namun sambil bekerja, ia
memecahkan soal-soal hitungan di luar kepala.
Dalam buku hariannya, terdapat catatan-catatan sebagai
berikut: "Senin, 18 Juni. Sakit kepala, 40 halaman Teori Tanah
karangan Cuvier, 64 halaman bahasa Prancis, 11 jam di tempat kerja.
Selasa, 19 Juni. 60 baris Ibrani, 30 baris bahasa Denmark, 10 baris
Bohemia, 9 baris Polandia, 15 nama bintang, 10 jam di tempat kerja."
Pandai besi yang terpelajar ini menguasai 18 bahasa dan 32 dialek!
Ia kemudian belajar pada seorang tukang besi. Ia harus bekerja
sepuluh sampai dua belas jam sehari. Namun sambil bekerja, ia
memecahkan soal-soal hitungan di luar kepala.
Dalam buku hariannya, terdapat catatan-catatan sebagai
berikut: "Senin, 18 Juni. Sakit kepala, 40 halaman Teori Tanah
karangan Cuvier, 64 halaman bahasa Prancis, 11 jam di tempat kerja.
Selasa, 19 Juni. 60 baris Ibrani, 30 baris bahasa Denmark, 10 baris
Bohemia, 9 baris Polandia, 15 nama bintang, 10 jam di tempat kerja."
Pandai besi yang terpelajar ini menguasai 18 bahasa dan 32 dialek!
Foto Ayah
Seorang pemuda sebentar lagi akan diwisuda, sebentar lagi dia akan
menjadi seorang sarjana, akhir dari jerih payahnya selama beberapa
tahun di bangku pendidikan.
Beberapa bulan yang lalu dia melewati sebuah showroom, dan saat itu
dia jatuh cinta kepada sebuah mobil sport, keluaran terbaru dari
Ford. Selama beberapa bulan dia selalu membayangkan, nanti pada saat
wisuda ayahnya pasti akan membelikan mobil itu kepadanya. Dia yakin,
karena dia anak satu-satunya dan ayahnya sangat sayang padanya,
sehingga dia yakin banget nanti dia pasti akan mendapatkan mobil itu.
Dia pun berangan-angan mengendarai mobil itu, bersenang-senang dengan
teman-temannya, bahkan semua mimpinya itu dia ceritakan keteman-
temannya.
Saatnya pun tiba, siang itu, setelah wisuda, dia melangkah pasti ke
ayahnya. Sang ayah tersenyum, dan dengan berlinang air mata karena
terharu dia mengungkapkan betapa dia bangga akan anaknya, dan betapa
dia mencintai anaknya itu. Lalu dia pun mengeluarkan sebuah
bingkisan,... bukan sebuah kunci ! Dengan hati yang hancur sang anak
menerima bingkisan itu, dan dengan sangat kecewa dia membukanya. Dan
dibalik kertas kado itu ia menemukan sebuah Alkitab yang bersampulkan
kulit asli, dikulit itu terukir indah namanya dengan tinta emas.
Pemuda itu menjadi marah, dengan suara yang meninggi dia
berteriak, "Yaahh... Ayah memang sangat mencintai saya, dengan semua
uang ayah, ayah belikan alkitab ini untukku ? " Lalu dia membanting
Alkitab itu dan lari meninggalkan ayahnya. Ayahnya tidak bisa berkata
apa-apa, hatinya hancur, dia berdiri mematung ditonton beribu pasang
mata yang hadir saat itu.
Tahun demi tahun berlalu, sang anak telah menjadi seorang yang
sukses, dengan bermodalkan otaknya yang cemerlang dia berhasil
menjadi seorang yang terpandang. Dia mempunyai rumah yang besar dan
mewah, dan dikelilingi istri yang cantik dan anak-anak yang cerdas.
Sementara itu ayahnya semakin tua dan tinggal sendiri. Sejak hari
wisuda itu, anaknya pergi meninggalkan dia dan tak pernah menghubungi
dia. Dia berharap suatu saat dapat bertemu anaknya itu, hanya untuk
meyakinkan dia betapa kasihnya pada anak itu. Sang anak pun kadang
rindu dan ingin bertemu dengan sang ayah, tapi mengingat apa yang
terjadi pada hari wisudanya, dia menjadi sakit hati dan sangat
mendendam.
Sampai suatu hari datang sebuah telegram dari kantor kejaksaan yang
memberitakan bahwa ayahnya telah meninggal, dan sebelum ayahnya
meninggal, dia mewariskan semua hartanya kepada anak satu-satunya
itu. Sang anak disuruh menghadap Jaksa wilayah dan bersama-sama ke
rumah ayahnya untuk mengurus semua harta peninggalannya. Saat
melangkah masuk ke rumah itu, mendadak hatinya menjadi sangat sedih,
mengingat semua kenangan semasa dia tinggal di situ. Dia merasa
sangat menyesal telah bersikap jelak terhadap ayahnya. Dengan
bayangan-bayangan masa lalu yang menari-nari di matanya, dia
menelusuri semua barang dirumah itu. Dan ketika dia membuka brankas
ayahnya, dia menemukan Alkitab itu, masih terbungkus dengan kertas
yang sama beberapa tahun yang lalu. Dengan airmata berlinang, dia
lalu memungut Alkitab itu, dan mulai membuka halamannya. Di halaman
pertama Alkitab itu, dia membaca tulisan tangan ayahnya, "Dan kamu
yang jahat tahu memberikan yang baik kepada anakmu, bagaimana Bapa-mu
yang di sorga akan memberikan apa yang kamu minta kepada-Nya ?"
Selesai dia membaca tulisan itu, sesuatu jatuh dari bagian belakang
Alkitab itu. Dia memungutnya,.... sebuah kunci mobil ! Di gantungan
kunci mobil itu tercetak nama dealer, sama dengan dealer mobil sport
yang dulu dia idamkan ! Dia membuka halaman terakhir Alkitab itu, dan
menemukan di situ terselip STNK dan surat-surat lainnya, namanya
tercetak di situ. dan sebuah kwitansi pembelian mobil, tanggalnya
tepat sehari sebelum hari wisuda itu. Dia berlari menuju garasi, dan
di sana dia menemukan sebuah mobil yang berlapiskan debu selama
bertahun-tahun, meskipun mobil itu sudah sangat kotor karena tidak
disentuh bertahun-tahun, dia masih mengenal jelas mobil itu, mobil
sport yang dia dambakan bertahun-tahun lalu. Dengan buru-buru dia
menghapus debu pada jendela mobil dan melongok ke dalam. bagian dalam
mobil itu masih baru, plastik membungkus jok mobil dan setirnya, di
atas dashboardnya ada sebuah foto, foto ayahnya, sedang tersenyum
bangga. Mendadak dia menjadi lemas, lalu terduduk di samping mobil
itu, air matanya tidak terhentikan, mengalir terus mengiringi rasa
menyesalnya yang tak mungkin diobati........
menjadi seorang sarjana, akhir dari jerih payahnya selama beberapa
tahun di bangku pendidikan.
Beberapa bulan yang lalu dia melewati sebuah showroom, dan saat itu
dia jatuh cinta kepada sebuah mobil sport, keluaran terbaru dari
Ford. Selama beberapa bulan dia selalu membayangkan, nanti pada saat
wisuda ayahnya pasti akan membelikan mobil itu kepadanya. Dia yakin,
karena dia anak satu-satunya dan ayahnya sangat sayang padanya,
sehingga dia yakin banget nanti dia pasti akan mendapatkan mobil itu.
Dia pun berangan-angan mengendarai mobil itu, bersenang-senang dengan
teman-temannya, bahkan semua mimpinya itu dia ceritakan keteman-
temannya.
Saatnya pun tiba, siang itu, setelah wisuda, dia melangkah pasti ke
ayahnya. Sang ayah tersenyum, dan dengan berlinang air mata karena
terharu dia mengungkapkan betapa dia bangga akan anaknya, dan betapa
dia mencintai anaknya itu. Lalu dia pun mengeluarkan sebuah
bingkisan,... bukan sebuah kunci ! Dengan hati yang hancur sang anak
menerima bingkisan itu, dan dengan sangat kecewa dia membukanya. Dan
dibalik kertas kado itu ia menemukan sebuah Alkitab yang bersampulkan
kulit asli, dikulit itu terukir indah namanya dengan tinta emas.
Pemuda itu menjadi marah, dengan suara yang meninggi dia
berteriak, "Yaahh... Ayah memang sangat mencintai saya, dengan semua
uang ayah, ayah belikan alkitab ini untukku ? " Lalu dia membanting
Alkitab itu dan lari meninggalkan ayahnya. Ayahnya tidak bisa berkata
apa-apa, hatinya hancur, dia berdiri mematung ditonton beribu pasang
mata yang hadir saat itu.
Tahun demi tahun berlalu, sang anak telah menjadi seorang yang
sukses, dengan bermodalkan otaknya yang cemerlang dia berhasil
menjadi seorang yang terpandang. Dia mempunyai rumah yang besar dan
mewah, dan dikelilingi istri yang cantik dan anak-anak yang cerdas.
Sementara itu ayahnya semakin tua dan tinggal sendiri. Sejak hari
wisuda itu, anaknya pergi meninggalkan dia dan tak pernah menghubungi
dia. Dia berharap suatu saat dapat bertemu anaknya itu, hanya untuk
meyakinkan dia betapa kasihnya pada anak itu. Sang anak pun kadang
rindu dan ingin bertemu dengan sang ayah, tapi mengingat apa yang
terjadi pada hari wisudanya, dia menjadi sakit hati dan sangat
mendendam.
Sampai suatu hari datang sebuah telegram dari kantor kejaksaan yang
memberitakan bahwa ayahnya telah meninggal, dan sebelum ayahnya
meninggal, dia mewariskan semua hartanya kepada anak satu-satunya
itu. Sang anak disuruh menghadap Jaksa wilayah dan bersama-sama ke
rumah ayahnya untuk mengurus semua harta peninggalannya. Saat
melangkah masuk ke rumah itu, mendadak hatinya menjadi sangat sedih,
mengingat semua kenangan semasa dia tinggal di situ. Dia merasa
sangat menyesal telah bersikap jelak terhadap ayahnya. Dengan
bayangan-bayangan masa lalu yang menari-nari di matanya, dia
menelusuri semua barang dirumah itu. Dan ketika dia membuka brankas
ayahnya, dia menemukan Alkitab itu, masih terbungkus dengan kertas
yang sama beberapa tahun yang lalu. Dengan airmata berlinang, dia
lalu memungut Alkitab itu, dan mulai membuka halamannya. Di halaman
pertama Alkitab itu, dia membaca tulisan tangan ayahnya, "Dan kamu
yang jahat tahu memberikan yang baik kepada anakmu, bagaimana Bapa-mu
yang di sorga akan memberikan apa yang kamu minta kepada-Nya ?"
Selesai dia membaca tulisan itu, sesuatu jatuh dari bagian belakang
Alkitab itu. Dia memungutnya,.... sebuah kunci mobil ! Di gantungan
kunci mobil itu tercetak nama dealer, sama dengan dealer mobil sport
yang dulu dia idamkan ! Dia membuka halaman terakhir Alkitab itu, dan
menemukan di situ terselip STNK dan surat-surat lainnya, namanya
tercetak di situ. dan sebuah kwitansi pembelian mobil, tanggalnya
tepat sehari sebelum hari wisuda itu. Dia berlari menuju garasi, dan
di sana dia menemukan sebuah mobil yang berlapiskan debu selama
bertahun-tahun, meskipun mobil itu sudah sangat kotor karena tidak
disentuh bertahun-tahun, dia masih mengenal jelas mobil itu, mobil
sport yang dia dambakan bertahun-tahun lalu. Dengan buru-buru dia
menghapus debu pada jendela mobil dan melongok ke dalam. bagian dalam
mobil itu masih baru, plastik membungkus jok mobil dan setirnya, di
atas dashboardnya ada sebuah foto, foto ayahnya, sedang tersenyum
bangga. Mendadak dia menjadi lemas, lalu terduduk di samping mobil
itu, air matanya tidak terhentikan, mengalir terus mengiringi rasa
menyesalnya yang tak mungkin diobati........
Subscribe to:
Posts (Atom)