INFO BEASISWA

Wednesday, August 15, 2007

Anak Anak Gaduh

Ada sepasang kakek nenek yang tinggal berdua di sebuah
rumah, mereka menikmati hari tuanya dengan tentram,
lingkungan mereka sepi tanpa gangguan karena rumah
mereka ada di ujung sebuah jalan yang buntu, tidak ada
kendaraan yang lewat rumah mereka.

Pada suatu hari, sekelompok anak mulai bermain sepak bola
di depan rumah mereka, di atas badan jalan buntu tersebut
Anak anak itu bermain dan berteriak teriak dengan seru,
sangat ribut dan merampas ketentraman yang selama ini
dinikmati sepasang kakek nenek itu.

Besoknya hal itu terulang kembali, demikian juga dengan
lusanya, rupanya anak anak itu kini telah mendapatkan
sebuah 'markas baru' tempat mereka bermain, bercanda,
bersenda gurau, berteriak, bahkan berkelahi.

Tujuh hari lamanya sang kakek nenek terganggu, mereka
berpikir keras mencari upaya agar anak anak itu tidak lagi
bermain di depan rumah mereka.

Pada hari ketujuh, ketika anak anak bermain sepak bola
sambil berteriak teriak dengan gaduh, sang kakek keluar
rumah, lalu ikut berteriak teriak memberikan semangat
kepada anak anak yang sedang bermain itu.

Ketika permainan sepak bola berakhir, sang kakek
menyediakan beberapa botol coca cola untuk anak anak
melepaskan haus.

Tentu saja anak anak kegirangan, mereka kemudian
diberitahu bahwa kakek kesepian dan ingin mengusir
kesepiannya dengan mendengarkan suara gaduh anak anak,
semakin gaduh mereka, semakin senang sang kakek.

Hari hari berikutnya hal yang sama berulang kembali, sang
kakek ikut bercanda, berteriak, bahkan kadang ikut bermain bola
dengan sepasang kakinya yang sudah lemah. kakek selalu menyediakan
coca cola, bahkan kemudian mengeluarkan permen, kue, atau coklat
kalau mereka bisa berteriak dengan keras. semakin gaduh, semakin
banyaklah makanan yang disediakan oleh sang kakek.

Tepat sebulan kemudian, ketika anak anak itu selesai
bermain, mereka tidak lagi disediakan coca cola, apalagi
permen atau coklat. Sang kakek berjanji besok pasti akan
ada coca cola dan coklat, asalkan mereka besok bisa
membuat kegaduhan yang luar biasa.

Besoknya, mereka bermain dengan luar biasa gaduh, tapi
ternyata sang kakek kembali ingkar janji, besok dan
besoknya sang kakek terus mengumbar janji, bahwa akan
ada coca cola dan coklat, bahkan permen, kue, mainan dan
banyak janji lainnya.

Anak anak mencoba bersabar, mereka terus menciptakan
kegaduhan seperti permintaan si kakek, namun sang kakek
terus tidak menepati janjinya.

Akhirnya, hilanglah kesabaran anak anak, mereka kemudian
memindahkan markas mereka ke jalan yang lain,

" Biar si kakek kesepian, biar dia tahu rasa karena
mengingkari janjinya, kita tidak akan lagi memberikan
kegaduhan untuknya, mari kita pindah dan main di tempat lain,
biarkan jalan ini sepi sehingga si kakek kesepian,
biar dia nyaho !! ".

Maka sejak saat itu, sepilah jalan di depan rumah si kakek,
anak anak marah dan tidak mau lagi bermain disitu.

Sejak hari itu, sang kakek nenek kembali bisa menikmati hari
harinya tanpa kegaduhan lagi ・

Konon di markas baru berikutnya, anak anak selalu ribut,
dan para penghuni rumah disana yang jalannya dijadikan markas
selalu memberikan permen dan coklat apabila anak anak bisa
bermain sepak bola dengan tertib, tidak berisik, sebaliknya
permen dan coklat tidak ada apabila mereka ribut sekali.

Konon juga permen dan coklat itu berlangsung bertahun tahun
karena anak anak yang tumbuh besar digantikan anak anak baru
generasi berikutnya yang 'betah' bermain sepak bola dan
berteriak teriak di markas itu, bahkan kemudian anak anak
yang sudah lebih besar ada yang menjadi preman yang
tidak puas dengan permen, tapi rokok.

Syukurlah, sang kakek dan nenek berhasil mengatasi masalahnya
dengan efektif karena metoda yang digunakannya lebih tepat.

Cerita ini sungguh menarik bukan?

Saya beberapa kali menggunakan cerita ini untuk mengelola divisi
kerja saya, saya mengikuti sebuah arus yang kurang umum untuk
mencapai hasil yang berlawanan, misalnya menolak usulan sebuah
rewards program yang diusulkan manager marketing saya.

Saya juga memakai cerita ini ketika saya menolak usulan istri saya
memberikan hadiah kenaikan kelas untuk anak kami secara berlebihan.

Hadiah perlu, tapi kita harus mempertimbangkannya secara matang,
jangan menjadikannya sebuah kebiasaan yang berdampak sebaliknya
pada jangka panjang.

Berilah pujian dari lubuk hati anda, ini akan lebih penting
daripada mengumbar hadiah yang dijadikan sebuah kebiasaan

Anjing Kecil

Anjing Kecil
Seekor anak anjing yang kecil mungil sedang berjalan-jalan di ladang pemiliknya.
Ketika dia mendekati kandang kuda, dia mendengar binatang besar itu
memanggilnya. Kata kuda itu : "Kamu pasti masih baru di sini, cepat atau lambat
kamu akan mengetahui kalau pemilik ladang ini mencintai saya lebih dari binatang
lainnya, sebab saya bisa mengangkut banyak barang untuknya, saya kira binatang
sekecil kamu tidak akan bernilai sama sekali baginya", ujarnya dengan sinis.

Anjing kecil itu menundukkan kepalanya dan pergi, lalu dia mendengar seekor sapi
di kandang sebelah berkata : "Saya adalah binatang yang paling terhormat di sini
sebab nyonya di sini membuat keju dan mentega dari susu saya. Kamu tentu tidak
berguna bagi keluarga di sini", dengan nada mencemooh.

Teriak seekor domba : "Hai sapi, kedudukanmu tidak lebih tinggi dari saya, saya
memberi mantel bulu kepada pemilik ladang ini. Saya memberi kehangatan kepada
seluruh keluarga. Tapi omonganmu soal anjing kecil itu, kayanya kamu memang
benar. Dia sama sekali tidak ada manfaatnya di sini."

Satu demi satu binatang di situ ikut serta dalam percakapan itu, sambil
menceritakan betapa tingginya kedudukan mereka di ladang itu. Ayam pun berkata
bagaimana dia telah memberikan telur, kucing bangga bagaimana dia telah
mengenyahkan tikus-tikus pengerat dari ladang itu. Semua binatang sepakat kalau
si anjing kecil itu adalah mahluk tak berguna dan tidak sanggup memberikan
kontribusi apapun kepada keluarga itu.

Terpukul oleh kecaman binatang-binatang lain, anjing kecil itu pergi ke tempat
sepi dan mulai menangis menyesali nasibnya, sedih rasanya sudah yatim piatu,
dianggap tak berguna, disingkirkan dari pergaulan lagi.....

Ada seekor anjing tua di situ mendengar tangisan tersebut, lalu menyimak keluh
kesah si anjing kecil itu. "Saya tidak dapat memberikan pelayanan kepada
keluarga disini, sayalah hewan yang paling tidak berguna disini."

Kata anjing tua itu : "Memang benar bahwa kamu terlalu kecil untuk menarik
pedati, kamu tidak bisa memberikan telur, susu ataupun bulu, tetapi bodoh sekali
jika kamu menangisi sesuatu yang tidak bisa kamu lakukan. Kamu harus menggunakan
kemampuan yang diberikan oleh Sang Pencipta untuk membawa kegembiraan."

Malam itu ketika pemilik ladang baru pulang dan tampak amat lelah karena
perjalanan jauh di panas terik matahari, anjing kecil itu lari menghampirinya,
menjilat kakinya dan melompat ke pelukannya. Sambil menjatuhkan diri ke tanah,
pemilik ladang dan anjing kecil itu berguling-guling di rumput disertai tawa
ria.

Akhirnya pemilik ladang itu memeluk dia erat-erat dan mengelus-elus kepalanya,
serta berkata : "Meskipun saya pulang dalam keadaan letih, tapi rasanya semua
jadi sirna, bila kau menyambutku semesra ini, kamu sungguh yang paling berharga
di antara semua binatang di ladang ini, kecil kecil kamu telah mengerti artinya
kasih........."

Jangan sedih karena kamu tidak dapat melakukan sesuatu seperti orang lain karena
memang tidak memiliki kemampuan untuk itu, tetapi apa yang kamu dapat lakukan,
lakukanlah itu dengan sebaik-baiknya.....

Dan jangan sombong jika kamu merasa banyak melakukan beberapa hal pada orang
lain, karena orang yang tinggi hati akan direndahkan dan orang yang rendah hati
akan ditinggikan.

Tukang Parkir

Bila Anak Diplomat Jadi Tukang Parkir



Jika Anda melewati Jalan Imam Bonjol, Menteng, Jakarta Pusat, mungkin
Anda akan sedikit heran melihat sosok seorang tukang parkir di depan
Kedutaan Besar Bulgaria di seberang kantor Komisi Pemilihan Umum.
Remaja tampan berkulit putih itu asli bule. Gayanya tak beda dengan
tukang parkir Melayu. "Terus, terus!" teriaknya dengan bahasa
Indonesia yang fasih seraya meniup peluit ketika memandu sebuah sedan
hijau yang hendak parkir. Yang lebih menarik, tukang parkir ini adalah
putra kedua Kuasa Usaha Kedutaan Bulgaria di Indonesia. Joss Rosenov
namanya. Usianya baru 13 tahun. Jabatan orangtuanya maupun warna
kulitnya tak membuat Joss sungkan melakukan kerja sebagai tukang
parkir --satu hal yang patut ditiru anak Indonesia. Sambil menunggu
mobil yang keluar-masuk, ia mengelap sejumlah mobil yang diparkir di
depan kantor yang sekaligus kediaman kedua orangtuanya sendiri.

Tak ada yang mencolok pada siswa kelas I SMP di Pakistan Embassy
School itu. Berkaus lengan pendek dan celana panjang krem, kakinya
beralas sandal jepit. Joss
mengaku sudah setahun menjadi tukang parkir. Sebelumnya, dia pernah
menjadi tukang ojek selama sebulan. Namun, dia kesulitan mendapatkan
penumpang. Tak ada yang mengajaknya menjadi tukang parkir. "Saya lihat
orang lain dulu," ujarnya seraya menunjuk tukang parkir di depan
kantor Komisi Pemilihan Umum. Joss berterus terang, ia menjadi tukang
parkir buat cari duit. Uang saku yang diperolehnya
tidak cukup. "Cuma tiga ribu (rupiah), kalau minta lagi tak dikasih,"
katanya.



Joss ingat, mobil yang pertama kali diparkirnya setahun yang lalu
adalah Kijang. "Saya merasa senang," kata dia seraya menambahkan, uang
parkir yang diterima untuk pertama kalinya sebesar seribu rupiah.
Pada awalnya, Joss tidak memberitahukan orangtuanya. Dia baru bilang
setelah dua hari menjadi tukang parkir. "Saya bilang sama Ibu dan
Bapak, saya mau cari uang jadi tukang parkir," ujarnya. Orangtuanya
tidak melarang. Joss juga tak
menghadapi hambatan dari tukang parkir lain. Pada saat liburan
sekolah, kata dia, pekerjaan ini dilakoninya setiap hari dari pagi
sampai malam, kecuali Minggu. Namun hari hari sekolah, pekerjaan itu
dilakukannya sepulang sekolah.


Selain menjadi tukang parkir, Joss juga jadi joki three in one, setiap
pagi dan sore hari. "Paginya saya jadi joki sampai jam 08.00,"
katanya. Dia juga tidak malu pada
teman-teman sekolahnya. "Saya pernah ngajak teman saya markir,"
katanya. Rata-rata penghasilan sebagai joki dan tukang parkir sekitar
Rp 60-70 ribu per hari. "Buat jajan, mau beli ikan louhan dan burung,"
kata dia. Ketika ditanya cita-citanya, Joss menjawab, "Saya ingin jadi
sopir." Dia juga ingin terus tinggal di Jakarta. "Di sini enak, bisa
cari duit sendiri."


Joss lalu kembali ke kursi di depan pos jaga kedutaan, duduk menanti
mobil-mobil yang hendak parkir.

Semangat

Semangat

Wanda baru satu bulan bekerja di bidang pemasaran sebuah perusahaan
kosmetik. Bulan pertama ini ia bekerja dengan penuh semangat. Ia banyak
memberikan masukan baru, ide-ide baru yang, menurut dia, akan membantu
penjualan.

Ia datang paling pagi karena rumahnya jauh dari tempat kerja. Ia sangat
bangga dengan pekerjaannya. Bila orang lain menanyakan di mana ia bekerja,
ia menjawabnya dengan penuh semangat dan kebanggaan.

Anehnya, rekan-rekan kerjanya, Andi dan Tuti, yang sudah bekerja lebih lama
menganggap remeh semangat Wanda ini. Mereka berkata: "Maklum, dia masih
baru, sih." Mereka sudah bekerja dua belas tahun lebih dan ternyata
semangat mereka sudah hampir hilang.

Mereka tidak lagi bekerja dengan menggebu-gebu. Tuti merasa ia tidak perlu
terlalu bersemangat karena toh gajinya tidak akan menjadi dua kali lipat
kalau ia rajin. Untuk apa bekerja mati-matian? Begitu pikirnya.

Lain lagi dengan Linda, ia sering mengajak Wanda berdiskusi. Wanda belajar
banyak dari Linda, demikian juga sebaliknya. Mereka sering berlomba sendiri
untuk menjual lebih banyak, padahal Linda sudah sebelas tahun bekerja. Bisa
dibilang semangat mereka seimbang. Pada saat yang satu agak lemah, maka
yang lain membantunya.

Memang ada orang-orang seperti Andi dan Tuti yang berpikir untuk apa
bekerja keras kalau gajinya sama saja. Mau malas, mau rajin, tidak ada
bedanya.Untuk apa bekerja rajin-rajin, begitu kata mereka.

Mereka tidak lagi memiliki tujuan dalam bekerja. Mereka melihat pekerjaan
sebagai beban, bukan lagi suatu tantangan atau kegiatan yang menyenangkan.
Bagi orang yang menganggap pekerjaan sebagai beban, biasanya ia akan merasa
cepat lelah.

Pada waktu ia bangun tidur, ia sudah merasa lelah untuk berangkat bekerja.
Begitu sampai di kantor ia otomatis ingin beristirahat karena merasa lelah.
Maka, ia lalu baca koran, sarapan, atau melanjutkan tidur. Kemudian apa
lagi? Mungkin ia akan menghabiskan waktu untuk menunggu jam pulang kantor
yang terasa tak kunjung tiba.

Mereka menganggap bahwa perusahaan diuntungkan dan mereka dirugikan kalau
mereka bekerja lebih rajin. Mereka lupa bahwa mereka sendirilah yang rugi
kalau mereka tidak bersemangat.

Gerakan fisik pasti berkurang, belum lagi kemampuan otak yang dihambat
karena dipaksa untuk pasif. Lagi pula, kinerja yang kurang baik bisa
menyebabkan tertutupnya kemungkinan promosi ke jabatan yang lebih tinggi.

Ingat kisah Udin yang tadinya bekerja sebagai pembersih lift di sebuah
gedung perkantoran, kemudian ada orang yang menawarkan pekerjaan sebagai
office boy dengan gaji lebih tinggi. Mengapa ia yang ditawari pekerjaan?
Mengapa bukan temannya yang lain?

Karena Udin tidak menganggap pekerjaannya sebagai beban. Pembersih lift
yang lain tidak mempedulikan para pengguna lift, tapi Udin lain. Ia selalu
membantu menekan tombol untuk membuka pintu lift, atau mengulurkan
tangannya untuk menahan pintu lift tertutup pada saat ada orang yang ke
luar atau masuk lift.

Seandainya ia dulu bekerja malas-malasan, atau kurang bersemangat karena
gaji kecil, pasti dia akan kelihatan loyo dan tidak akan terpilih untuk
ditawari pekerjaan lain.

Lagi pula benarkah anggapan bahwa semangat akan menurun bila sudah lama
bekerja? Justru sebaliknya, Linda membuktikan bahwa ia tetap bersemangat
tinggi meskipun ia sudah lama bekerja. Ia menyenangi pekerjaannya. Ia
menikmati hari-hari kerjanya.

Kesenangannya bekerja terpancar di wajahnya yang selalu bersemangat.
Tingkah lakunya sigap, selalu bersedia membantu orang lain dan tidak pernah
melakukan korupsi waktu selama di tempat kerja. Sama dengan Wanda, ia tidak
pernah terlambat datang ke kantor.

Andi dan Tuti lupa bahwa keadaan hati yang loyo, sikap malas, rasa tidak
puas dan hal-hal lain yang mereka rasakan, akan terpancar di wajah dan
tingkah laku mereka sehari-hari.

Kalau sudah begitu, tentu atasan dapat melihat dan merasakannya. Akhirnya
siapa yang rugi? Tentu diri sendiri bukan? Nah, kalau semangat memang sudah
berkurang, apa yang harus kita lakukan? Mudah sekali.

Pertama, cari kesenangan baru dalam pekerjaan. Misalnya Tuti malas mengetik
proposal, nah ia bisa mulai dengan menetapkan target untuk membuat proposal
lebih cepat.

Atau ia bisa mengubah proposalnya menjadi lebih menarik, lebih jelas, atau
sekadar mencari-cari jenis huruf yang lebih sesuai. Ia akan menemukan
keasyikan baru sehingga mendongkrak semangatnya.

Kedua, anggaplah hambatan sebagai tantangan yang harus dikalahkan. Hambatan
dan tantangan adalah hal yang sama, yang berbeda hanya sudut pandangnya.
Bila dianggap sebagai hambatan, maka langkah kita menjadi lebih berat.

Seperti orang berlomba lari, bila ia melihat batu-batuan sebagai hambatan,
maka ia akan merasa berat. Tapi bila ia melihatnya sebagai tantangan, maka
langkahnya malah lebih panjang, lompatannya akan lebih tinggi karena ia
berfokus pada cara terbaik untuk mengatasinya. Di samping itu ia akan
menemukan kesenangan baru.

Love your job! Enjoy!

Monday, August 6, 2007

Tips memulai hari

Tips Memulai Hari dengan Cerah

Hari yang cerah bukan ditandai dengan matahari yang
bersinar terang atau udara yang sejuk, melainkan dari
hati dan pikiran yang segar. Kecerahan suatu hari
dimulai dari diri anda sendiri. Kita tahu bahwa
sesuatu yang dimulai dengan baik merupakan separuh
dari pencapaian tujuan.

Karena itu, memulai aktivitas hari ini dengan
kecerahan suasana adalah modal besar untuk
menyelesaikan hari dengan baik pula. Bagaimana memulai
hari dengan cerah sangat dipengaruhi oleh pola hidup
kita.

Berikut beberapa tips ringan agar kita bisa memulai
hari dengan cerah.

1--Mulailah dari malam hari.
Kita tak bisa berharap bangun dengan segar jika di
malam harinya tak cukup tidur nyenyak. Hari esok yang
cerah dimulai dari malam ini. Bila anda
masih mempunyai masalah, yakinlah masih ada waktu esok
untuk menyelesaikannya lebih baik lagi. Malam ini, beristirahatlah
sebaik-baiknya.

2--Bangun pagi lebih pagi.
Bangunlah lebih pagi daripada terbitnya matahari.
Jumpai keheningan dan kesunyian. Pagi buta adalah saat
yang tepat untuk menemukan sisi damai
dalam diri anda.

3--Damaikan pikiran dan tentramkan jiwa
Jangan terburu melakukan aktivitas. Resapi saja
suasana pagi yang damai ini. Berdoa,sampaikan syukur
atas hidup yang masih diberikan pada kita
dan bersaat teduh.

4--Segarkan tubuh.
Minum air. Hirup aroma tea atau kopi yang menyegarkan. Berjalan-jalanlah
keluar. Pompa udara banyak-banyak ke dalam paru-paru. Lakukan olahraga
ringan, Mandi dengan air segar. Bersihkan tubuh baik-baik. Tetaplah
mengingat janji anda tadi pagi untuk melakukan sesuatu yang berguna bagi
semesta hari ini.

5--Dapatkan sarapan secukupnya.
Isi perut anda secukupnya. Sarapan yang baik adalah
modal untuk kebugaran tubuh anda sepanjang hari.
Jangan asal kenyang, namun cukupkan
kebutuhan energi dan gizi.

6--Sapalah orang-orang yang anda jumpai.
Terbarkan senyum. Tak peduli apakah matahari bersinar
cerah atau mendung menggayut, sapalah orang-orang yang
anda jumpai. Tanyakan kabar mereka, maka jangan
terkejut jika mereka pun akan membalas senyum anda.

7--Jangan mengeluh
Apa pun yang terjadi, entah itu hari hujan, jalanan
macet, kereta datang terlambat, kendaraan mogok, atau
apa pun yang terjadi, terimalah semua
itu apa adanya. In everything, give thanks.
Selamat bekerja serta selamat bercerah hari.

Kisah Adolf Hitler

Pada tahun 1899, di Austria, tepatnya di city of
Linz, seorang bernama Gearl Zaitz merasa sangat takut
dan gelisah karena telah beberapa malam belakangan ia
selalu tidur dengan mimpi buruk. Dalam mimpinya, ia
berulang kali melihat pembunuhan, pembantaian dan
banjir darah di mana-mana. Tidak tahan oleh ketakutan
yang mencekam perasaannya dan yang selalu mengganggu
pikirannya, ia mendatangi Alois Muller, seorang
"dukun" yang dikenal bisa meramal dan menjelaskan
makna mimpi. Dengan nada sedih dan suara yang dalam
Muller mengatakan bahwa mimpi itu artinya hidup Zaitz
lah yang sutu saat kelak akan menyebabkan banjir
darah, pembantaian dan terbunuhnya ribuan bahkan
ratusan ribu nyawa manusia.

Perasaan sedih Zaitz tidak lagi tertahankan.
Baginya lebih baik mati dari pada hidup justru
menyebabkan terbunuhnya orang lain. Demikianlah
akhirnya, Zaitz memutuskan bunuh diri dengan jalan
terlentang di lintasan kereta api. "Dari pada aku
menyebabkan terbunuhnya banyak orang, biarlah banyak
orang yang membunuhku," pikirnya. Baru saja ia
merebahkan badannya, alangkah terkejutnya ketika ia
menoleh ke arah datangnya kereta api, seorang bocah
berusia sekitar 10 tahun tengah melakukan hal yang
sama dengan yang ia lakukan. Karena tidak ingin
"menyebabkan" orang terbunuh, maka ketika
kereta telah semakin dekat, buru-buru ia lari dan
menyelamatkan si bocah malang. Kereta api telah lewat
dan si bocah berhasil ia selamatkan. Ada perasaan
tenteram bercampur bahagia yang sulit ia ungkapkan.
Gangguan mimpi buruk itupun lenyap seketika. Kini ia
merasa sangat tenang dan tenteram.

Ia memutuskan untuk membatalkan "acara" bunuh
dirinya dan menganggap bahwa apa yang dikatakan Muller
hanya omong kosong belaka. Berbuat baiklah ternyata
yang mampu menentramkan hatinya. Nyatanya, Zaitz
memang hidup tenang sebagai petani di desa kecil
Lambach tidak jauh dari Linz. Sampai akhirnya hayatnya
ia tidak pernah tahu bahwa anak yang ia selamatkan
itu tidak lain adalah orang yang kelak dikenal dengan
nama Adolf Hitler.

Kisah 2 Pencuri

Pencuri (I): Emmanuel Ninger

Peristiwa ini terjadi di sebuah toko makanan kecil pada tahun 1887.
Seorang pria yang tampak terkemuka berumur lebih kurang 60 tahun
membeli lobak hijau. Dia menyerahkan kepada pelayan selembar uang
dua puluh dolar dan menunggu kembaliannya. Pelayan toko menerima
uang dan mulai memasukkannya ke laci sementara dia mengambil
kembalian. Walau demikian, dia melihat ada tinta pada jarinya, yang
masih basah karena memegang lobak hijau. Dia terkejut dan berhenti
sejenak untuk memikirkan apa yang akan dilakukannya. Setelah sesaat
bergulat dengan masalah itu, dia membuat keputusan. Pembeli itu
adalah Emmanuel Ninger, teman lama, tetangga, dan pelanggan.
Tentunya orang ini tidak akan memberinya uang palsu. Dia pun
memberikan kembalian dan pembeli tersebut pun pergi.

Kemudian, si pelayan toko berpikir kembali karena uang dua puluh
dolar merupakan jumlah yang sangat besar pada tahun 1887. Dia
akhirnya memanggil polisi. Seorang polisi merasa yakin bahwa uang
dua puluh dolar itu asli. Polisi lainnya kebingungan tentang tinta
yang terhapus. Akhirnya, rasa ingin tahu yang diperpadukan dengan
tanggung jawab memaksa mereka untuk meminta surat penggeledahan atas
rumah Ninger. Di rumah tersebut, di loteng, mereka menemukan
fasilitas untuk mencetak uang lembaran dua puluh dolar. Bahkan
mereka menemukan lembaran uang dua puluh dolar yang masih dalam
proses pencetakan. Mereka juga menemukan tiga potret diri yang
dilukis oleh Ninger.

Ninger adalah seorang pelukis, dan pelukis yang ahli. Dia begitu
ahli, sehingga dia melukis lembaran dua puluh dolar dengan tangan!
Dengan teliti, goresan demi goresan, dia menggunakan sentuhan
keahliannya sedemikian cermat sehingga dia bisa membodohi setiap
orang sampai hari itu.

Setelah dia ditangkap, potret dirinya dijual dalam sebuah lelang
umum dan terjual seharga $16.000, berarti lebih dari $5.000 per
lukisan. Ironi dari kisah ini adalah bahwa Emmanuel Ninger
menghabiskan waktu yang tepat sama untuk melukis uang dua puluh
dolar seperti yang dilakukannya untuk melukis potret diri seharga
$5.000.

Ya, orang cemerlang yang berbakat ini menjadi pencuri dalam segenap
arti katanya. Tragisnya, orang yang paling banyak dicurinya adalah
Emmanuel Ninger sendiri. Bukan hanya dia seharusnya menjadi orang
kaya secara sah bila dia memasarkan kemampuannya, tetapi seharusnya
dia bisa membeli begitu banyak kesenangan dan begitu banyak
keuntungan bagi sesamanya. Dia termasuk dalam daftar pencuri yang
tidak ada habis-habisnya mencuri dari dirinya sendiri ketika mereka
berusaha mencuri dari orang lain.

Apakah kita adalah "Emmanuel Ninger" yang lain, yang memanfaatkan
bakat, ketrampilan, dan diri kita hanya untuk menghasilkan $20,
padahal sebenarnya kita bisa menghasilkan $5.000?

-----------------


Pencuri (II): Arthur Barry

Pencuri ini bernama Arthur Barry. Dia adalah seorang pencuri yang
luar biasa dan spesialisasinya adalah mencuri perhiasan. Barry
mendapat reputasi internasional sebagai salah satu pencuri paling
terkemuka sepanjang masa. Dia bukan hanya seorang pencuri perhiasan
yang sukses, dia juga seorang penilai barang seni. Bahkan dia
menjadi orang yang tinggi hati dan tidak bersedia mencuri dari
sembarang orang.

Para "prospek"-nya bukan hanya harus mempunyai uang dan perhiasan
untuk bisa memancingnya berkunjung, tetapi nama mereka juga harus
terdaftar di eselon atas masyarakat. Kurang lebih menjadi lambang
status bila mereka dikunjungi dan dirampok oleh "pencuri ksatria"
ini. Perasaan ini menyebabkan kepolisian sangat malu.

Suatu malam, Barry tertangkap ketika sedang merampok dan ditembak
tiga kali. Dengan peluru bersarang di tubuhnya, pecahan kaca di
matanya, dan menderita rasa sakit yang luar biasa, dia membuat
pernyataan yang tidak terlalu di luar dugaan, "Saya tidak akan
melakukannya lagi."

Tidak lama setelah dipenjara, dia berhasil meloloskan diri, dan
selama tiga tahun berikutnya hidup bebas di luar penjara. Kemudian
seorang wanita yang cemburu melaporkannya dan Barry menjalani
hukuman penjara selama delapan belas tahun. Setelah dibebaskan,
Barry memenuhi janjinya. Dia tidak pernah menjadi pencuri perhiasan
lagi. Bahkan dia menetap di sebuah kota kecil di New England dan
menjalani kehidupan sebagai warga teladan. Warga kota setempat
menghormatinya dan menjadikannya ketua organisasi veteran lokal.

Walau demikian, akhirnya bocor berita bahwa Arthur Barry, pencuri
permata yang terkenal itu, berada di tengah-tengah mereka. Wartawan
dari seluruh negeri berdatangan ke kota kecil itu untuk
mewawancarainya. Mereka mengajukan sejumlah pertanyaan dan akhirnya
seorang wartawan muda mendapatkan inti persoalan ketika dia
mengajukan pertanyaan yang paling dalam, "Pak Barry," dia
bertanya, "Anda mencuri dari banyak orang kaya selama tahun-tahun
kehidupan Anda sebagai pencuri, tetapi saya ingin tahu apakah Anda
masih ingat siapa yang paling banyak Anda curi?"

Tanpa keraguan sedikitpun, Barry menjawab, "Itu mudah. Dengan bakat
dan kepandaian yang saya miliki, seharusnya saya menjadi usahawan
yang sukses, seorang baron di Wall Street, dan warga masyarakat yang
berjasa memberikan banyak sumbangan, tetapi sebaiknya saya memilih
kehidupan sebagai pencuri dan melewatkan dua pertiga masa dewasa
saya di balik terali besi penjara. Ya, orang yang paling banyak saya
curi adalah diri saya sendiri!"

Apakah kita adalah "Arthur Barry" yang lain, yang "salah"
memanfaatkan bakat dan kemampuan kita dan menghabiskan sebagian
besar masa produktif kita dalam "terali besi" yang kita ciptakan
sendiri?